Jumat, 25 Maret 2016

PAPER "DAMPAK INDUSTRIALISASI PARIWISATA TERHADAP KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR"


PAPER
DAMPAK INDUSTRIALISASI PARIWISATA TERHADAP KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Manajemen Bisnis Islam
Dosen Pengampu : M. Arif Hakim



Disusun Oleh :

1.               Ahmad Burhanuddin              (1320310200)





 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM/ MBS
TAHUN 2015

DAMPAK INDUSTRIALISASI PARIWISATA TERHADAP KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR

DATA DAN FAKTA
A.    Pengertian pariwisata
Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Sesungguhnya, pariwisata telah dimulai sejak dimulainya peradaban manusia itu sendiri, ditandai oleh adanya pergerakan manusia yang melakukan ziarah dan perjalanan agama lainnya. Dalam melakukan kegiatan wisata, wisatawan dipengaruhi oleh faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong merupakan faktor internal yang bersifat psikologis, sedangkan faktor penarik merupakan faktor yang berasal dari obyek wisata yang berupa tawaran atau promosi. Faktor pendorong yang bersifat psikologis antara lain kebutuhan hiburan atau relaksasi dari kejenuhan rutinitas kerja, menjalin hubungan kekerabatan dan keakraban dalam keluarga atau pertemanan, menunjukkan gengsi atas kelas sosial dan gaya hidup berdasarkan tujuan wisata, alasan pembelajaran atau pengetahuan yang ingin didapatkan ketika berwisata, dan dorongan nilai-nilai keagamaan. Sedangkan, faktor penarik yang ditawarkan oleh obyek wisata antara lain keindahan alam, wahana hiburan, fasilitas penunjang disekitar obyek wisata, akses menuju obyek wisata, biaya yang harus dikeluarkan, tingkat keamanan, dan karateristik kebudayaan. Faktor-faktor penarik inilah yang harus diperhatikan dalam mengembangkan industri pariwisata. Prinsip industri pariwisata untuk menghadirkan ‘surga’ dan memanjakan wisatawan adalah modal utama menjadi obyek wisata unggulan.

B.     Strategi pariwisata dalam bisnis islam
Untuk pengembangan wisata di Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menandatangani kesepakatan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), untuk mendorong pariwisata tersebut berkembang di Indonesia.
Islam sangat mempengaruhi kultur hidup orang-orang Indonesia, sehingga wacana penerapan pariwisata  sangat besar potensinya untuk berkembang dan akan memperoleh dukungan luas baik pemerintah maupun dunia usaha. Salah satunya adalah tersedianya berbagai produk halal yang dapat menunjang pertumbuhan wisata dalam islam. Hal ini ditandai dengan meningkatnya konsumsi produk halal.
Ada lima komponen yang dimasukkan dalam wisata berbasis islami oleh Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Kemamenparekraf) dan MUI yaitu sektor kuliner, fashion muslim, perhotelan, akomodasi, kosmetik dan haji umrah. Berdasarkan demografi masyarakat dunia saat ini, sekitar 56 persen warga muslim berada dalam masa produktif. “Mereka mulai mengubah kebiasaan dari muslim tradisional ke muslim modern yang tidak menolak perubahan,” katanya.
Pemilik jaringan Hotel (Bang Jay) itu menjelaskan, kriteria umum pariwisata dalam islam ialah;
1.      memiliki orientasi kepada kemaslahatan umum.
2.      memilik orientasi pencerahan, penyegaran, dan ketenangan.
3.      menghindari kemusyrikan dan khurafat.
4.      bebas dari maksiat.
5.      menjaga keamanan dan kenyamanan.
6.      menjaga kelestarian lingkungan. Ketujuh, menghormati nilai-nilai sosial budaya dan kearifan lokal.
Sedangkan empat faktor dalam mengelolah suatu bisnis, yang dilakukan rasulullah dalam berbisnis yaitu:
1.      Sidiq
2.      Amanat
3.      Tabligh
4.      Fatonah

C.    Strategi pariwisata yang dijalankan di Karimunjawa
Perencanaan strategis
Pada bisnis pariwisata di daerah pesisir ini tujuan utamanya adalah bagaimana wisatawan asing maupun lokal bisa menikmatai surga kami, surga lautan, surganya Karimunjawa surga milik Tuhan”.
2.      Perencanaan taktis
Rencana ini mengarahkan kegiatan yang dilakukan saat ini dan dalam waktu dekat, biasanya bisnis pariwisata merupakan bisnis yang sangat tepat, banyak dibutuhkan, serta diminati oleh setiap kalangan. Namun sebagai pembisnis kita harus memiliki kekuatan kreatif, kekuatan strategis, dan kekuatan psikologis optimis dari setiap orang di tempat kerja. Karena setiap wisatawan saat ini sangat sensitif dengan kualitas, biaya, serta gaya hidup penduduk setempat pada saat ini.
3.      Perencanaan operasional
Rencana ini dirancang untuk menerjemahkan rencana jangka panjang kedalam serangkaian kegiatan yang lebih rinci. Pada perencanaan ini industrialisai pariwisata dikarimunjawa sangat memperhatikan biaya, kualitas, serta kepuasan wisatawan yang berkunjung.

D.    Strategi hubungan industrialisasi pariwisata
1.      Wisatawan memiliki hubungan penting dengan lingkungan sekitar
Ø  Menjaga atau mengamankan asetnya,
Ø  Mengembangkan modal atau asetnya supaya memberikan nilai tambah yang tinggi,
Ø  Meningkatkan penghasilannya.
2.      Demikian pula perusahaan/masyarakat juga memiliki kepentingan terhadap tamu/wisatawan yang tak kalah banyaknya
Ø  Sebagai sumber kesempatan kerja,
Ø  Sebagai sumber penghasilan,
Ø  Sebagai sarana melatih diri, memperkaya pengalaman kerja serta meningkatkan keahlian dan keterampilan,
Ø  Tempet pengembangan karier, dan
Ø  Tempat mengaktualisasikan keberhasilan.






DOKUMENTASI
 
 











LANDASAN TEORI
A.    Perencanaan strategi
Proses perencanaan strategi bisnis  ini dimulai dari perencanaan strategi (strategi pleaning), perencanaan taktis(tactical pleaning), dan perencanaan operasional(operational pleaning).
Apabila dilakukan perumusan strategi bisnis ketiga perencanaan strategi tersebut diimplikasikan dalam bentuk tindakan.
1.      Perencanaan strategi merupakan proses penentuan tujuan utama dari suatu organisasi bisnis, dan kemudian memilih serangkaian tindakan serta mengalokasikan sumber dan yang timbul mencapai  tujuan tersebut.
2.      Perencanaan taktis meliputi pelaksanaan kegiatan yang telah ditentukan oleh rencana strategis, rencana statis mengarahkan kegiatan yang dilakukan saat ini dan dalam waktu dekat yang dibutuhkan untuk melakukan strategi keseluruhan.
3.      Perencanaan operasional menetapkan standar terperinci yang mengarahkan implementasi dari rencana taktis. Kegiatan ini meliputi pemilihan target kerja spesifik serta penugasan tim dan karyawan untuk melaksanakan rencana tersebut.

B.     Strategi hubungan pariwisata dalam islam
Bagian terbesar dari proses perencanaan strategis berkisaran pada penentuan menggunakn kemampuan terbaik perusahaan dipandang dari sudut peluang dan ancaman pasar. Karena pengetahuan pelanggan telah meningkat, sehingga lebih kritis dan selalu membandingkan produk sejenis yang ditawarkan oleh para kompititor.
1.      Hubungan budaya dan pariwisata
Banyak keterkaitan yang terjadi antara budaya dan pariwisata, karna budaya adalah salah satu aset penting yang bisa ditawarkan atau dijual kepada wisatawan agar mereka berwisata didaerah tersebut.
Budaya tidak hanya tari-tarian, nyanyian adat,dsb. Budaya bisa juga makanan khas dan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakaukan. Mungkin bagi orang asli daerah tersebut, budaya mereka terkesan biasa (karena mereka sering melakukannya) tapi bagi wisatawan mancanegara itu bisa menjadi daya tarin tersendiri. Suatu daerah jika bisa mengemas/menyajikan suatu budaya dari daerah itu tersendiri dengan baik dan modern (tanpa harus meninggalkan unsur-unsur pokok budaya tersebut) maka itu bisa menjadi keuntungan yang luar biasa. Contohnya Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ), selain pantai dan pemandangan indah yang ditawarkan untuk para wisatawan, tetapi Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) juga mengemas budaya-budayanya dengan sedemikian rupa sehingga banyak turis asing yang berkunjung ke Karimunjawa.
Ada banyak cara sebenarnya untuk memajukan pariwisata dinegara kita. Memang untuk memajukan pariwisata budaya bukan hanya tugas pemerintah tetapi juga masyarakat kita. Namun tentunya Kementrian Kebudayan dan Pariwisata, serta Dinas Pariwisata diseluruh daerah di Indonesia, sebagai instansi pemerintah yang bertugas memajukan kebudayaan dan pariwisata Indonesia, memiliki tanggung jawab yang lebih besar.
Pertama, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata sesuai dengan fungsinya yang hanya sebagai perumus kebijakan, harus berani dan tegas dalam menentukan konsep, visi, dan misi pariwisata budaya Indonesia.
Kedua, sesuai dengan semangat otonomi daerah yang menyerahkan tugas pengembangan kebudayaan dan pariwisata kepada Dinas Pariwisata di masing-masing daerah, maka Dinas Pariwisata harus benar-benar menangkap pelimpahan tugas dan wewenang itu sebagai peluang untuk memajukan masyarakat didaerahnya. Sebagai contoh kekayaan budaya yang kita miliki, maka disetiap kabupaten atau kota Dinas Pariwisata minimal dapat mendirikan satu pusat atau sentra pariwisata budaya yang menampilkan keanekaragaman budaya diwilayahnya masing-masing. Bentuk kongretnya adalah didirikannya semacam Taman Nasional Karimunjawa.
Ketiga, para pengamat pariwisata dan budaya sudah saatnya untuk lebih mengutamakan kajian dan penelitian yang merekomendasikan bagaimana memajukan kebudayaan dan pariwisata Indonesia dibandingkan dengan kajian dan penitian yang selalu memberikan kritik yang belum tentu konstruktif terhadap kebijakan pembangunan pariwisata dan budaya, yang seringkali justru menyebabkan ketakutan pada instansi pemerintah untuk mengambil kebijakan.
Keempat, peran serta masyarakat dalam pembangunan sentra-sentra budaya dimasing-masing daerah harus diutamakan.
Bila pembangungan industrial pariwisata ini dapat segera dilakukan dengan terarah dan berkesinambungan diseluruh daerah di Karimunjawa, maka kelestarian budaya, inovasi dan kreativitas budaya, kerukunan antar budaya, lapangan pekerjaan, pemasukan terhadap pendapatan daerah dan devisa negara adalah sumbangan penting yang dpat diberikan oleh bidang pariwisata budaya untuk peradaban Indonesia yang lebih baik dimasa mendatang.
2.      Hubungan pariwisata dalam islam
Menurut saya tidak masalah, asal dijalankan dengan semestinya. Sekarang ini juga banyak wisata religi atau sering juga disebut dengan wisata ziarah. Mereka berwisata sekalian juga berziarah ke makam-makam para pejuang islam. Pemahaman wisata dalam islam adalah safar untuk merenungi keindahan ciptaan Allah SWT, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiban hidup. Karena refresing jiwa perlu untuk memulai semangat kerja baru.
Dalam beragama, ada aturan dalam pariwisata. Periwisata yang menjadi rekomendasi oleh islam adalah pariwisata yang berhubungn dengan sepiritualitas, berziarah, dan perkunjungan ketempet-tempat bersejarah islam, perkunjungan tentang kebesaran ciptaan Allah, seperti pemandangan alam, gunung berapi, pemandangan bawah laut, dan sejenisnya.











DAFTAR PUSTAKA
Anem Kosong Anem Pitana, I Gde dan Gayatri, Putu G.Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta. 2005.
Tulungen, J Johnnes, dkk. Pembangunan Dan Pemberdayaan Masyarakat. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2003.
Kusnadi, M.A, Akar Kemiskinan Nelayan. LKiS. Yogyakarta. 2006.
Pendit, Nyoman S. Perempuan Pesisir. LkiS.Yogyakarta. 1994
http://mirajnews.com/id/artikel/opini/potensi-wisata-syariah-di-indonesia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar