MAKALAH
PERTUMBUHAN
EKONOMI
Di Susun Guna
Memenuhi Tugas
Mata Kuliah
Ekonomi Makro
Dosen Pengampu
: Danang Kurniawan SE.,MM
Di
Susun Oleh :
1. Ahmad Burhanuddin (1320310200)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI KUDUS
JURUSAN
SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM/MBS
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Dalam analisis
makro ekonomi perkataan “Pertumbuhan Ekonomi’’ mempunyai dua segi pengertian
yang berbeda. Di satu pihak istilah pertumbuhan ekonomi digunakan untuk
menggambarkan bahwa suatu perekonomian telah mengalami perkembangan ekonomi dan
mencapai taraf kemakmuran yang lebih tinggi. Di lain segi istilah tersebut
bertujuan untuk menggambarkan tentang masalah ekonomi yang dihadapi dalam
jangka panjang. Masalah ekonomi jangka
panjang yang dihadapi suatu negara dapat dibedakan kepada tiga aspek.
Aspek pertama dari masalah pertumbuhan itu bersumber dari perbedaan diantara
tingkat pertumbuhan potensial yang dapat dicapai, dan tingkat pertumbuhan
yang sebenarnya tercapai.
Aspek kedua mengenai masalh pertumbuhan ekonomi adalah meningkatkan
potensinpertumbuhan itu sendiri.
Aspek yang
ketiga mengenai
masalah pertumbuhan ekonomi adalah mengenai keteguhan pertumbuhan ekonomi
yang berlalu dari satu tahun ke tahun lainnya.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Pertumbuhan
Ekonomi; Konsep dan Pengukuran
2.
Pentingnya
Pertumbuhan Ekonomi
3.
Faktor-faktor
Penentu Pertumbuhan Ekonomi
4.
Teori-teori
Pertumbuhan Ekonomi
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pertumbuhan
Ekonomi: Konsep dan Pengukuran
Suatu
perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika jumlah produksi
barang dan jasanya meningkat. Dalam dunia nyata, amat sulit untuk mencatat
jumlah unit barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu. Kesulitan
itu muncul bukan saja karena barang dan jasa yang dihasilkan sangat beragam,
tetapi satuan ukurannya pun berbeda. Misalnya, produksi singkong diukur dengan
satuan berat (kilogram/ton),sementara produk air bersih/air minum diukur dalam
satuan volume,minyak bumi dalam satuan barel. Belum lagi satuan-satuan produk
yang tidak terukur dalam satuan fisik, misalnya jasa konsultasi, jasa
pariwisata dan jasa modern lainnya.
Kerena itu
angka yang digunakan untuk menaksir angka perubahan output adalah nilai
moneternya (uang) yang tercemin dalam nilai Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk
mengukur pertumbuhan ekonomi, nilai PDB yang digunakan adalah PDB yang
berdasarkan konstan. Sebab, dengan menggunakan harga konstan, pengaruh
perubahan harga telah dihilangkan, sehingga sekalipun angka yang muncul adalah
nulai uang dari total output barang dan jasa, perubahan nilai PDB barang
sekaligus menunjukkkan perubahan jumlah kantitas barabg dan jasa yang dihasilkan selama priode
pengamatan.
Mengingat
sulitnya pengumpulan data PDB, maka penghitungan pertumbuhan ekonomi tidak
dapat dilakukan setiap saat; biasanya dilakukan dalam dimensi waktu triwulanan
dan tahunan. Cara menghitung tingkat pertumbuhan sederhana sekali.
Jika selang
waktu pertumbuhan hanya satu priode, maka:
(PDBRt
– PDBRt-1)
Gt = x100% ................................................................
(7.1)
PDBRt-1
Dimana:
Gt =
pertumbuhan ekonomi periode t (triwulan atau tahunan)
PDBRt = Produk Domestik Bruto Riil periode t
(berdasarkan harga konstan)
PDBRt-1=
PDBR satu periode sebelumnya
Jika interval waktunya lebih dari satu periode, perhitungan tingkat
pertumbuhan ekonomi dapat menggunakan persamaan eksponensial:
PDBRt = PDBR()(1
+ r )t................................................................................
(7.2)
Dimana:
PDBRt
= PDBR periode t
PDBR()=
PDBR periode awal
r = tingkat pertumbuhan
t = jarak periode
berikut
ini adalah contoh perhitungan pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan data PDB
Indonesia periode 1990-1995.
Tabel 7.1
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, periode 1990-1995.
|
Tahun
|
PDBR (konstan
1990)
(Rp milliar)
|
Tingkat
pertumbuhan (%/tahun)
|
Tk.Pertumbuhan
Rata-rata 1990-1995 (%/tahun)
|
|
1990
1991
1992
1993
1994
1995
|
195.597
209.192
222.705
237.172
255.055
276.003
|
7,2
7,0
6,5
6,5
7,5
8,2
|
7,1
7,1
7,1
7,1
7,1
7,1
|
Sumber: diolah dari International Financial Statistics (IMF), 1997:
Angka pertumbuhan tahunan diperoleh dengan menggunakan persamaan
7.1
Misalnya,
(PDBR1995 – PDBR1994)
G1990 = x 100%
PDBR1994
(276.003 – 255.055)
= x 100%
255.055
= 8,2
Angka pertumbuhan rata-rata periode 1990-1995 diperoleh dengan
menggunakan persamaan 7.2.
PDBR1995 = PDBR1990 (1+r)
5
Kita ubah
persamaan ini dalam bentuk logaritma, sehingga:
Log (PDBR1995) = Log (PDBR1990) +5 Log
(1+r)
5 Log (1+r) = Log (PDBR1995) –
Log (PDBR1990)
= Log (276.003) – Log (195.597)
= 5,4409 – 5,2914 = 0,1495
Log (1+r) = 0,1495/5 = 0,0299
Dengan mengganti
logaritma angka 0,0299 diperoleh:
1+r = 1,071
r = 0,071 = 7,1%
atau pertumbuhan ekonomi rata-rata pertahun periode 1990-1995 adalah 7,1%.[1]
Tabel 7.2
Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia, Periode 1970-1994
Atas Harga
Konstan 1990 (% per tahun)
|
|
1970-1980
|
1980-1990
|
1990-1994
|
1970-1994
|
|
1.
PDB
2.
Sektor
Primer
3.
Sektor
Sekunder
4.
Sektor
Tensier
|
8
5
14,4
9,0
|
5,5
5,4
7,3
5,8
|
4,9
0,5
12,2
8,3
|
5,4
3,8
11,0
7,6
|
Sumber: Diolah
dari Badan Pusat Statistik (BPS), berbagai tahun.
Tabel
7.2 menunjukkan walaupun pertumbuha ekonomi jangka panjang Indonesia melebihi
angka 6% per tahun, tingkat pertumbuhannya mengalami naik turun. Tingkat
pertumbuhan terjadi selama periode 1970-1980, yaitu 8% per tahun. Sedangkan
terendah terjadi selama periode 1990-1994 yang hanya 4,9% per tahun. Dari tabel
juga terlihat bahwa sektor yang yang relatif sangat tinggi tingkat
pertumbuhannya adalah sektor sekunder, selama periode 1970-1994 mencapai
rata-rata 11% per tahun. Kebalikan dari sektor sekunder adalah sektor primer,
pertumbuhan rata-ratanya selama periode 1970-1994 hanya 3,6% per tahun, atau
hanya 1/3 kali tingkat pertumbuhan sektor sekunder. Bahkan pada periode
1990-1994 mengalami tingkat pertumbuhan negatif. Data-data pertumbuhan ini
merupakan indikasi awal tentang adanya ketimpangan sektoral (sektor sekunder
versus primer), yang dapat ditindaklanjuti dengan penelitian-penelitian yang lebih
dalam dan spesifik.
Demikian
juga halnya jika ingin melihat apakah telah terjadi ketimpangan regional.
Dengan memperhatikan pertumbuhan regional, akan segera terlihat daerah-daerah
yang terlalu cepat atau terlalu lambat tingkat pertumbuhannya. Data-data ini
dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki keseimbangan tingkat
pertumbuhan antar daerah (regional).[2]
2.
Pentingnya
Pertumbuhan Ekonomi
Dalam
menerangkan mengenai penghitungan pendapatan nasional telah diterangkan bahwa
penghitungan dilakukan berdasarkan kepada harga yang berlaku dan harga konstan.
Peningkatan nilai pendapatan nasional menurut harga konstan dapat memberi
gambaran menegenai pertumbuhan ekonomi yang dicapai.[3]
Sampai saat
ini yang tetap menjadi perdebatan hangat di indonesia adalah mana yang lebih
penting, pertumbuhan atau pemerataan? Terlepas mana yang lebih penting,yang
pasti pertumbuhan ekonomi sangat penting dan sangat di butuhkan. Sebab, tanpa
pertumbuhan tidak akan terjadi peningkatan kesejahteraan,kesempatan kerja,
produktifitas dan distribusi pendapatan. Pertumbuhan ekonomi juga penting untuk
mempersiapkan perekonomian menjadi tahapan kemajuan selanjutnya.
A. Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan
Rakyat dikatakan makin sejahtera jika setidaknya output perkapita
meningkat. Dalam liberatur ekonomi makro, tingkat kesejahteraan tersebut di
ukur dengan PDB per kapita. Makin tinggi pdb perkapita, makin sjahtera
masyarakat. Agar PDB per kapita terus meningkat, maka perekonomian harus terus
bertumbuh dan harus lebih tinggi dari pada tingkat pertambahan penduduk suatu
negara adalah 2% per tahun, maka pertumbuhan PDB harus lebih besar dari 2% per
tahun.
B. Pertumbuhan Ekonomi dan Kesemptan Kerja
Mengingat manusia adalah salah satu faktor terpenting dalam proses
produksi, maka dapat dikatakan kesempatan kerja akan meningkat jika output
meningkat. Hubungan antara kesempatan kerja dan output dapat dilihat
berdasarkan rasio kesempatan kerja output dan angka elastisitas kesempatan
kerja.
1) Rasio kesempatan kerja output
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja telah di bahas
oleh seorang ekonom bernama Arthur okun. Menurutnya, tingkat pengangguran yang
minimal (4% per tahun) akan tercapai jika seluruh kapasitas produksi terpakai
(kesempatan kerja penuh atau full employmen). Konsekuensipemikiran okun adalah
pentingnya menjaga perekonomian agar berada dalam keadaan kesempatan kerja
penuh.
2) Angka elastilitas kesempatan kerja
Alat analisis lain yang digunakan untuk melihat hubungan antara
kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi adalah angka elastisitas kesempatan
kerja. Angka ini menunjukkan berapa persen kesempatan kerja akan bertambah,
untuk setiap 1% pertumbuhan ekonomi.
Tingkat efisiensi juga mempunyai dampak terhadap kesempatan kerja,
seperti pada penjelasan tentang rasio kesempatan kerja output.
C. Pertumbuhan Ekonomi dan Perbaikan
Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan yang baik adalah yang makin merata. Tetapi tanpa
adanya pertumbuhan ekonomi, yang terjadi adalah pemerataan kemiskinan. Pertumbuhan
ekonomi hanya akan menghasilkan perbaikan distribusi pendapatan bila memenuhi
setidaknya dua syarat, yaitu memperluas lapangan kerja dan meningkatkan
produktivitas. Dengan memperluas lapangan kerja maka akses rakyat untuk
memperoleh pendapatan makin besar.
Jika alat utama yang digunakan untuk perbaikan distribusi pendapatan
adalah mekanisme pasar, maka supaya dapat bertahan di pasar, para pekerja harus
terus meningkatkan produktivitas.dalam jangka panjang, kesempatan kerja yang
tersedia memaksa orang untuk untuk menentukan spesialisasi, yang akan
meningkatkan produktivitas. Dengan meningkatkan priduktivitas, uang yang
dihasilkan untuk jam kerja yang sama akan lebih besar. Uang tersebut digunakan
untuk memperbaiki kualitas SDM generasi berikutnya. Begitu seterusnya, sehingga
dalam beberapa generasi kemudian, distribusi pendapatan semakin membaik.
D. Persiapan Bagi Tahapan Kemajuan Selanjutnya
Suatu bangsa, terutama suatu perekonomian, dapat diumpamakan seperti
manusia, yang tidak dapat menjadi besar dan dewasa dalam tempo semalam. Bahkan
waktu yang dibutuhkan untuk mendewasakan perekonomian jauh lebih lama dibanding
waktu yang dibutuhkan manusia untuk menjadi dewasa. Jika manusia matang dalam
(jasmani dan rohani) umumnys tercapai pada usia sekitar 30-40 tahun, maka
perekonomian baru dikatakan matang mungkin setelah berusia ratusan tahun bahkan
hingga ribuan tahun. Kita tidak dapat menentukan batas kematangan suatu
perekonomian. Hanya saja pengalaman bangsa maju menunjukkan mereka membutuhkan
waktu sekitar tiga sampai lima abad untuk memodernisasikan perekonomiannya.[4]
3. Faktor-faktor Penentu Pertumbuhan Ekonomi
Para ekonom klasik telah lama dan terus
menerus mempelajari gejala pertumbuhan ekonomi. Karenanya, sangat baik untuk
melihat pandangan mereka tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi.
Berikut ini kita bahas secara ringkas
faktor –faktor penentu pertumbuhan ekonomi tersebut.
a. Barang Modal
Agar ekonomi bertumbuh, stok barang modal harus ditambah. Dalam bab 4
telah dipelajari bahwa penambahan stok barang modal dilakukan lewat investasi.
Karena itu salah satu upanya pokok untuk meningkatkan investasi adalah
menangani faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat investasi. Yang juga harus di
ingat adalah pertumbuhan ekonomi baru baru dimungkinkan jika investasi neto
lebih besar dari nol. Sebab, jika investasi neto sama dengan nol, perekonomian
hanya dapat berproduksi pada tingkat sebelumnya. Akan lebih baik lagi, jika
penambahan kuantitas barang modal juga disertai peningkatan kualitas.
b. Tenaga Kerja
Sampai saat ini, khususnya di negara sedang berkembang, tenaga(NSB),
tenaga kerja(TK) masih merupakan faktor produksi yang sangat dominan.
Penambahan tenaga kerja umumnya sangat berpengaruh terhadap peningkatan output.
Yang menjadi persoalan adalah sampai berapa banyak penambahan TK akan terus
meningkatkan output. Hal itu sangat tergantung dari sebera cepatnya terjadinya
the law of diminishing return (TLDR). Sedangkan cepat atau lambatnya TLDR
sangat di tentukan oleh kualitas SDM dan keterkaitannya dengan kemajuan
teknologi produksi. Selama ada sinerji antara TK dan teknologi, penambahan TK
akan memacu pertumbuhan ekonomi.
Sanyangnya, jumlah TK yang di libatkan dalam proses produksi akan lebih
sedikit jika teknologi yang digunakan makin tinggi.
c. Teknologi
Hampir dapat di pastikan bahwa penggunaan teknologi yang makin tinggi
sangat memacu pertumbuhan ekonomi, jika hanya dilihat dari peningkatan output.
Namun, hal itu apakah baik? Harus dikaji ulang. Sebab, tujuan akhir pertumbuhan
ekonomi adalah masyarakat yang adil dan sejahtera; bukan orang per orang. Telah
dibahas dalam pembagian sebelumnya, ada imbang korban antara kemajuan teknologi
dan kesempatan kerja. Lebih dari itu, kemajuan kemajuan teknologi telah makin
memperbesar ketimpangan ekonomi antar bangsa, utamanya bangsa-bangsa maju serta
dunia ketiga atau NSB.
d. Uang
Dalam perekonomian modern, uang memegang peranan dan fungsi sentral.
Uang bagi perekonomiaan ibarat darah dalam tubuh manusia. Tidak mengerankan
makin banyak uang yang digunakan dalam proses produksi, makin besar output yang
dihasilkan. Tetapi dengan jumlah uang yang sama, dapat dihasilkan output yang
lebih besar jika penggunaannya lebih efisien.
Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki uang cukup?
Jika usaha mereka diperkirakan memberi hasil yang baik ( memiliki prospek),
banyak bank atau lembaga keuangan yang mau membantu, misalnya dengan memberikan
kredit. Hanya saja minat meminjam, sangat tergantung dari besar kecilnya biaya
yang harus di keluarkan, terutama bunga pinjaman. Sedangkan bunga pinjaman
dapat ditekan jika sistem keuangan berjalan efisien.
e. Manajemen
Manajemen adalah peralatan yang sangat di butuhkan untuk mengelola
perekonomiaan modern, terutama bagi perekonomian yang sangat mengandalkan
mekanisme pasar. Sistem manajemen yang baik, terkadang jauh lebih berguna
dibanding barang modal yang banyak, uang yang berlimpah dan teknologi yang
tinggi. Ada perekonomiaan yang tidak terlalu mengandalkan teknologi tinggi
namun, berkat manajemen yang baik , mampumempertahankan tingkat pertumbuhan
ekonomi yang tinggi.
f. Kewirausahaan
Lebih luas dari cakupan manajemen adalah kewirausahaan. Untuk sementara,
kiwirausahaan cukup didefinisikan sebagai kemampuan dan keberaniaan mengambil
risiko guna mendapatkan keuntungan. Keberanian itu bukan asal-asalan. para pengusaha mempunyai perkiraan yang matang
bahwa input yang dikombinasikannya akan menghasilkan barang dan jasa yang
dibutuhkan masyarakat, menjadi barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat.
Kemampuan mengkombinasikan input ini dapat disebut sebagai kemampuan inovasi.
g. Informasi
Syarat agar pasar berfungsi sebagai alat alat alokasi sumber daya
ekonomi yang efisien adalah adanya informasi yang sempurna dan seimbang.
Kegagalan pasar merupakan akibat tidak terpenuhinya alokasi ini. Tuntutan
gerakan reformasi indonesia berupa transparansi dan kebebasan informasi,
dilihat dari teori ekonomi, dapat dibenarkan. Sebab, makin banyak, makin benar
dan makin seimbang arus informasi, para pelaku ekonomi dapat mengambil
keputusan dengan cepat dan lebih baik, alokasi sumber daya ekonomi makin
efisien. Dengan sumber daya yang sama, dihasilkan output yang lebih
banyak. Informasi amat menunjang pertumbuhan ekonomi.[5]
4.
Teori-teori
Pertumbuhan Ekonomi
Teori-teori pertumbuhan ekonomi melihat hubungan antara pertumbuhan
ekonomi dengan faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi yang telah dibahas
diatas. Perbedaan antara teori yang satu dengan teori yang lain terletak pada
perbedaan fokus pembahasan dan atau asumsi-asumsi yang digunakan.
a.
Teori
Jumlah Penduduk Optimal (Optimal Population Theory)
Teori ini telah
sangat lama dikembangkan oleh kaum klasik. Menurut teori ini, berikutnya TLDR
menyebabkan tidak semua penduduk dapat dilibatkan dalam proses produksi. Jika
dipaksakan, justru akan menurunkan tingkat output perekonomian seperti
digambarkan diagram berikut ini.
Teori Produksi
(output)
Q3
TP2
Q1
Q2
TP1
0 L1 L2 Tenaga Kerja
Dalam diagram
7.1 kurva TP1 menunjukkan hubungan antara jumlah tenaga kerja dengan tingkat output (fungsi
produksi). Kondisi optimal akan tercapai jika jumlah output penduduk
(tenaga kerja) yang terlibat dalam proses produksi adalah L1, dengan
jumlah output (PDB) adalah Q1. Jika jumlah tenaga kerja ditambah
menjadi L2, PDB justru berkurang menjadi Q2. Hal ini
karena cepat terjadinya TLDR. Bagaimana agar penambahan tenaga kerja ke L2
dapat meningkatkan output, misalnya, menjadi Q3? Yang harus
dilakukan adaah investasi fisik (barang modal) dan SDM yang menunda terjadinya
gejala TLDR. Bahkan kedua investasi tersebut menimbulkan sinerji. Jika hal
tersebut yang terjadi, maka fungsi produksi membaik. Hal itu digambarkan dengan
bergesernya kurva produksi ke TP2. Penambahan tenaga kerja akan
meningkatkan output (PDB).[6]
b.
Teori
Pertumbuhan Neo-Klasik
Teori pertumbuhan
Neo-klasik pada dasrnya bertujuan untuk menerangkan faktor-faktor utama yang
mnentukan pertumbuhan ekonomi dan sumbangan relatif dari berbagai faktor ini
dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Dalam teori Neo-Klasik ditunjukkan
bagaimana tiga jenis input- yaitu
modal, teknologi dan tenaga kerja
menentukan tingkat kegiatan ekonomi, dan peranan dari modal dan perkembangan
teknologi dalam menentukan pertumbuhan ekonomi. Untuk menerangkan teori
petumbuhan Neo-Klasik, uraian dalam bagian ini akan dibedakan kepada empat
tingkat analisis, yaitu:
I.
Menunjukkan
pandangan teori pertumbuhan Neo-klasik dengan terlebih dahulu memisalkan tidak
terdapat perkembangan teknologi, yaitu tingkat teknologi dianggap konstan.
II.
Menunjukkan
tabungan, investasi dan konsumsi pada setiap tingkat pertumbuhan ekonomi.
III.
Melihat
efek depresiasi dan pertambahan penduduk keatas pertumbuhan ekonomi.
IV.
Menunjukkan
bagaimana perkembanagn teknologi akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.[7]
c.
Teori Pertumbuhan Endojenus (Endogenus Growth Theory)
Teori
yang dikembangkan oleh Romer (1986) ini merupakan pengembangan mutakhir teori
pertumbuhan Klasik-Neo Klasik. Kelemahan model klasik maupun Neo Klasik
terletak pada asumsi bahwa teknologi bersifat eksogenus. Kensekuensi ini adalah
terjadinya The Law of Diminishing Return, karna teknologi dianggap sebagai faktor produksi tetap (fixed
input). Konsekuensi lebih serius dari memperlakukan teknologi sebagai
faktor eksogen dan konstan adalah perekonomian yang lebih tebelakang selama
tingkat pertambahan penduduk, tingkat tabungan, dan akses terhadap teknologi
adalah sama.[8]
d.
Teori
Schumpeter
Teori
schumpeter menggaris bawahi pentingnya pembiayaaan inflasioner dan inovasi
sebagai faktor utama dalam pembangunan ekonomi. Pembiayaan inflasioner
merupakan satu metode tepat yang kini dicoba untuk diterapkan oleh setiap
negara terbelakang[9]
e.
Teori
Harrod-Domar
Teori
Harrod-Domar dikembangkan secara terpisah (sendiri-sendiri) dalam priode yang
bersamaan oleh E.S Domar (1947,1948) dan R.F. Harrod (1939,1948). Keduanya
melihat pentingnya investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, sebab investasi akan
meningkatkan stok barang modal, yang memungkinkan peningkatan output. Sumber
dana domestik untuk keperluan investasi berasal dari bagian produksi
(pendapatan nasional) yang ditabung.
[1] Prathama Raharja,Mandala Manurung,Teori Ekonomi Makro;suatu pengantar,edisi
ketiga. Jakarta,2005, hlm 137-139.
[3] Sadono sukirno,Makroekonomi modern,PT Raja Grafindo Persada,Jakarta.
Hlm 56.
[4] Ibid,hlm 140-143
[5] Ibid, hlm 144-147
[6] Prathama Raharja,Mandala Manurung,Teori Ekonomi Makro;suatu
pengantar,edisi ketiga. Jakarta,2005, hlm 147-148
[7] Sadono sukirno, op-cit,. Hlm 452-453
[8] Prathama Raharja,Mandala Manurung, op-cit,. Hlm 150
[9] M.L.Jhingan,Ekonomi Pembangunan Dan Perencanaan.PT RajaGrafindo
Persada,Jakarta. Hlm 132
Tidak ada komentar:
Posting Komentar