Jumat, 25 Maret 2016

PAPER "DAMPAK INDUSTRIALISASI PARIWISATA TERHADAP KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR"


PAPER
DAMPAK INDUSTRIALISASI PARIWISATA TERHADAP KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Manajemen Bisnis Islam
Dosen Pengampu : M. Arif Hakim



Disusun Oleh :

1.               Ahmad Burhanuddin              (1320310200)





 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM/ MBS
TAHUN 2015

DAMPAK INDUSTRIALISASI PARIWISATA TERHADAP KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR

DATA DAN FAKTA
A.    Pengertian pariwisata
Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Sesungguhnya, pariwisata telah dimulai sejak dimulainya peradaban manusia itu sendiri, ditandai oleh adanya pergerakan manusia yang melakukan ziarah dan perjalanan agama lainnya. Dalam melakukan kegiatan wisata, wisatawan dipengaruhi oleh faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong merupakan faktor internal yang bersifat psikologis, sedangkan faktor penarik merupakan faktor yang berasal dari obyek wisata yang berupa tawaran atau promosi. Faktor pendorong yang bersifat psikologis antara lain kebutuhan hiburan atau relaksasi dari kejenuhan rutinitas kerja, menjalin hubungan kekerabatan dan keakraban dalam keluarga atau pertemanan, menunjukkan gengsi atas kelas sosial dan gaya hidup berdasarkan tujuan wisata, alasan pembelajaran atau pengetahuan yang ingin didapatkan ketika berwisata, dan dorongan nilai-nilai keagamaan. Sedangkan, faktor penarik yang ditawarkan oleh obyek wisata antara lain keindahan alam, wahana hiburan, fasilitas penunjang disekitar obyek wisata, akses menuju obyek wisata, biaya yang harus dikeluarkan, tingkat keamanan, dan karateristik kebudayaan. Faktor-faktor penarik inilah yang harus diperhatikan dalam mengembangkan industri pariwisata. Prinsip industri pariwisata untuk menghadirkan ‘surga’ dan memanjakan wisatawan adalah modal utama menjadi obyek wisata unggulan.

B.     Strategi pariwisata dalam bisnis islam
Untuk pengembangan wisata di Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menandatangani kesepakatan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), untuk mendorong pariwisata tersebut berkembang di Indonesia.
Islam sangat mempengaruhi kultur hidup orang-orang Indonesia, sehingga wacana penerapan pariwisata  sangat besar potensinya untuk berkembang dan akan memperoleh dukungan luas baik pemerintah maupun dunia usaha. Salah satunya adalah tersedianya berbagai produk halal yang dapat menunjang pertumbuhan wisata dalam islam. Hal ini ditandai dengan meningkatnya konsumsi produk halal.
Ada lima komponen yang dimasukkan dalam wisata berbasis islami oleh Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Kemamenparekraf) dan MUI yaitu sektor kuliner, fashion muslim, perhotelan, akomodasi, kosmetik dan haji umrah. Berdasarkan demografi masyarakat dunia saat ini, sekitar 56 persen warga muslim berada dalam masa produktif. “Mereka mulai mengubah kebiasaan dari muslim tradisional ke muslim modern yang tidak menolak perubahan,” katanya.
Pemilik jaringan Hotel (Bang Jay) itu menjelaskan, kriteria umum pariwisata dalam islam ialah;
1.      memiliki orientasi kepada kemaslahatan umum.
2.      memilik orientasi pencerahan, penyegaran, dan ketenangan.
3.      menghindari kemusyrikan dan khurafat.
4.      bebas dari maksiat.
5.      menjaga keamanan dan kenyamanan.
6.      menjaga kelestarian lingkungan. Ketujuh, menghormati nilai-nilai sosial budaya dan kearifan lokal.
Sedangkan empat faktor dalam mengelolah suatu bisnis, yang dilakukan rasulullah dalam berbisnis yaitu:
1.      Sidiq
2.      Amanat
3.      Tabligh
4.      Fatonah

C.    Strategi pariwisata yang dijalankan di Karimunjawa
Perencanaan strategis
Pada bisnis pariwisata di daerah pesisir ini tujuan utamanya adalah bagaimana wisatawan asing maupun lokal bisa menikmatai surga kami, surga lautan, surganya Karimunjawa surga milik Tuhan”.
2.      Perencanaan taktis
Rencana ini mengarahkan kegiatan yang dilakukan saat ini dan dalam waktu dekat, biasanya bisnis pariwisata merupakan bisnis yang sangat tepat, banyak dibutuhkan, serta diminati oleh setiap kalangan. Namun sebagai pembisnis kita harus memiliki kekuatan kreatif, kekuatan strategis, dan kekuatan psikologis optimis dari setiap orang di tempat kerja. Karena setiap wisatawan saat ini sangat sensitif dengan kualitas, biaya, serta gaya hidup penduduk setempat pada saat ini.
3.      Perencanaan operasional
Rencana ini dirancang untuk menerjemahkan rencana jangka panjang kedalam serangkaian kegiatan yang lebih rinci. Pada perencanaan ini industrialisai pariwisata dikarimunjawa sangat memperhatikan biaya, kualitas, serta kepuasan wisatawan yang berkunjung.

D.    Strategi hubungan industrialisasi pariwisata
1.      Wisatawan memiliki hubungan penting dengan lingkungan sekitar
Ø  Menjaga atau mengamankan asetnya,
Ø  Mengembangkan modal atau asetnya supaya memberikan nilai tambah yang tinggi,
Ø  Meningkatkan penghasilannya.
2.      Demikian pula perusahaan/masyarakat juga memiliki kepentingan terhadap tamu/wisatawan yang tak kalah banyaknya
Ø  Sebagai sumber kesempatan kerja,
Ø  Sebagai sumber penghasilan,
Ø  Sebagai sarana melatih diri, memperkaya pengalaman kerja serta meningkatkan keahlian dan keterampilan,
Ø  Tempet pengembangan karier, dan
Ø  Tempat mengaktualisasikan keberhasilan.






DOKUMENTASI
 
 











LANDASAN TEORI
A.    Perencanaan strategi
Proses perencanaan strategi bisnis  ini dimulai dari perencanaan strategi (strategi pleaning), perencanaan taktis(tactical pleaning), dan perencanaan operasional(operational pleaning).
Apabila dilakukan perumusan strategi bisnis ketiga perencanaan strategi tersebut diimplikasikan dalam bentuk tindakan.
1.      Perencanaan strategi merupakan proses penentuan tujuan utama dari suatu organisasi bisnis, dan kemudian memilih serangkaian tindakan serta mengalokasikan sumber dan yang timbul mencapai  tujuan tersebut.
2.      Perencanaan taktis meliputi pelaksanaan kegiatan yang telah ditentukan oleh rencana strategis, rencana statis mengarahkan kegiatan yang dilakukan saat ini dan dalam waktu dekat yang dibutuhkan untuk melakukan strategi keseluruhan.
3.      Perencanaan operasional menetapkan standar terperinci yang mengarahkan implementasi dari rencana taktis. Kegiatan ini meliputi pemilihan target kerja spesifik serta penugasan tim dan karyawan untuk melaksanakan rencana tersebut.

B.     Strategi hubungan pariwisata dalam islam
Bagian terbesar dari proses perencanaan strategis berkisaran pada penentuan menggunakn kemampuan terbaik perusahaan dipandang dari sudut peluang dan ancaman pasar. Karena pengetahuan pelanggan telah meningkat, sehingga lebih kritis dan selalu membandingkan produk sejenis yang ditawarkan oleh para kompititor.
1.      Hubungan budaya dan pariwisata
Banyak keterkaitan yang terjadi antara budaya dan pariwisata, karna budaya adalah salah satu aset penting yang bisa ditawarkan atau dijual kepada wisatawan agar mereka berwisata didaerah tersebut.
Budaya tidak hanya tari-tarian, nyanyian adat,dsb. Budaya bisa juga makanan khas dan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakaukan. Mungkin bagi orang asli daerah tersebut, budaya mereka terkesan biasa (karena mereka sering melakukannya) tapi bagi wisatawan mancanegara itu bisa menjadi daya tarin tersendiri. Suatu daerah jika bisa mengemas/menyajikan suatu budaya dari daerah itu tersendiri dengan baik dan modern (tanpa harus meninggalkan unsur-unsur pokok budaya tersebut) maka itu bisa menjadi keuntungan yang luar biasa. Contohnya Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ), selain pantai dan pemandangan indah yang ditawarkan untuk para wisatawan, tetapi Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) juga mengemas budaya-budayanya dengan sedemikian rupa sehingga banyak turis asing yang berkunjung ke Karimunjawa.
Ada banyak cara sebenarnya untuk memajukan pariwisata dinegara kita. Memang untuk memajukan pariwisata budaya bukan hanya tugas pemerintah tetapi juga masyarakat kita. Namun tentunya Kementrian Kebudayan dan Pariwisata, serta Dinas Pariwisata diseluruh daerah di Indonesia, sebagai instansi pemerintah yang bertugas memajukan kebudayaan dan pariwisata Indonesia, memiliki tanggung jawab yang lebih besar.
Pertama, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata sesuai dengan fungsinya yang hanya sebagai perumus kebijakan, harus berani dan tegas dalam menentukan konsep, visi, dan misi pariwisata budaya Indonesia.
Kedua, sesuai dengan semangat otonomi daerah yang menyerahkan tugas pengembangan kebudayaan dan pariwisata kepada Dinas Pariwisata di masing-masing daerah, maka Dinas Pariwisata harus benar-benar menangkap pelimpahan tugas dan wewenang itu sebagai peluang untuk memajukan masyarakat didaerahnya. Sebagai contoh kekayaan budaya yang kita miliki, maka disetiap kabupaten atau kota Dinas Pariwisata minimal dapat mendirikan satu pusat atau sentra pariwisata budaya yang menampilkan keanekaragaman budaya diwilayahnya masing-masing. Bentuk kongretnya adalah didirikannya semacam Taman Nasional Karimunjawa.
Ketiga, para pengamat pariwisata dan budaya sudah saatnya untuk lebih mengutamakan kajian dan penelitian yang merekomendasikan bagaimana memajukan kebudayaan dan pariwisata Indonesia dibandingkan dengan kajian dan penitian yang selalu memberikan kritik yang belum tentu konstruktif terhadap kebijakan pembangunan pariwisata dan budaya, yang seringkali justru menyebabkan ketakutan pada instansi pemerintah untuk mengambil kebijakan.
Keempat, peran serta masyarakat dalam pembangunan sentra-sentra budaya dimasing-masing daerah harus diutamakan.
Bila pembangungan industrial pariwisata ini dapat segera dilakukan dengan terarah dan berkesinambungan diseluruh daerah di Karimunjawa, maka kelestarian budaya, inovasi dan kreativitas budaya, kerukunan antar budaya, lapangan pekerjaan, pemasukan terhadap pendapatan daerah dan devisa negara adalah sumbangan penting yang dpat diberikan oleh bidang pariwisata budaya untuk peradaban Indonesia yang lebih baik dimasa mendatang.
2.      Hubungan pariwisata dalam islam
Menurut saya tidak masalah, asal dijalankan dengan semestinya. Sekarang ini juga banyak wisata religi atau sering juga disebut dengan wisata ziarah. Mereka berwisata sekalian juga berziarah ke makam-makam para pejuang islam. Pemahaman wisata dalam islam adalah safar untuk merenungi keindahan ciptaan Allah SWT, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiban hidup. Karena refresing jiwa perlu untuk memulai semangat kerja baru.
Dalam beragama, ada aturan dalam pariwisata. Periwisata yang menjadi rekomendasi oleh islam adalah pariwisata yang berhubungn dengan sepiritualitas, berziarah, dan perkunjungan ketempet-tempat bersejarah islam, perkunjungan tentang kebesaran ciptaan Allah, seperti pemandangan alam, gunung berapi, pemandangan bawah laut, dan sejenisnya.











DAFTAR PUSTAKA
Anem Kosong Anem Pitana, I Gde dan Gayatri, Putu G.Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta. 2005.
Tulungen, J Johnnes, dkk. Pembangunan Dan Pemberdayaan Masyarakat. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2003.
Kusnadi, M.A, Akar Kemiskinan Nelayan. LKiS. Yogyakarta. 2006.
Pendit, Nyoman S. Perempuan Pesisir. LkiS.Yogyakarta. 1994
http://mirajnews.com/id/artikel/opini/potensi-wisata-syariah-di-indonesia/

Makalah Pertumbuhan Ekonomi



MAKALAH
PERTUMBUHAN EKONOMI
Di Susun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Ekonomi Makro
Dosen Pengampu : Danang Kurniawan SE.,MM






                                                                                                 

Di Susun Oleh :

1.      Ahmad Burhanuddin               (1320310200)



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM/MBS
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dalam analisis makro ekonomi perkataan “Pertumbuhan Ekonomi’’ mempunyai dua segi pengertian yang berbeda. Di satu pihak istilah pertumbuhan ekonomi digunakan untuk menggambarkan bahwa suatu perekonomian telah mengalami perkembangan ekonomi dan mencapai taraf kemakmuran yang lebih tinggi. Di lain segi istilah tersebut bertujuan untuk menggambarkan tentang masalah ekonomi yang dihadapi dalam jangka panjang.  Masalah ekonomi jangka panjang yang dihadapi suatu negara dapat dibedakan kepada tiga aspek.
Aspek pertama dari masalah pertumbuhan itu bersumber dari perbedaan diantara tingkat pertumbuhan potensial yang dapat dicapai, dan tingkat pertumbuhan yang sebenarnya tercapai.
Aspek kedua mengenai masalh pertumbuhan ekonomi adalah meningkatkan potensinpertumbuhan itu sendiri.
Aspek yang ketiga mengenai masalah pertumbuhan ekonomi adalah mengenai keteguhan pertumbuhan ekonomi yang berlalu dari satu tahun ke tahun lainnya.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Pertumbuhan Ekonomi; Konsep dan Pengukuran
2.      Pentingnya Pertumbuhan Ekonomi
3.      Faktor-faktor Penentu Pertumbuhan Ekonomi
4.      Teori-teori Pertumbuhan Ekonomi









BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pertumbuhan Ekonomi: Konsep dan Pengukuran
Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika jumlah produksi barang dan jasanya meningkat. Dalam dunia nyata, amat sulit untuk mencatat jumlah unit barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu. Kesulitan itu muncul bukan saja karena barang dan jasa yang dihasilkan sangat beragam, tetapi satuan ukurannya pun berbeda. Misalnya, produksi singkong diukur dengan satuan berat (kilogram/ton),sementara produk air bersih/air minum diukur dalam satuan volume,minyak bumi dalam satuan barel. Belum lagi satuan-satuan produk yang tidak terukur dalam satuan fisik, misalnya jasa konsultasi, jasa pariwisata dan jasa modern lainnya.
Kerena itu angka yang digunakan untuk menaksir angka perubahan output adalah nilai moneternya (uang) yang tercemin dalam nilai Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk mengukur pertumbuhan ekonomi, nilai PDB yang digunakan adalah PDB yang berdasarkan konstan. Sebab, dengan menggunakan harga konstan, pengaruh perubahan harga telah dihilangkan, sehingga sekalipun angka yang muncul adalah nulai uang dari total output barang dan jasa, perubahan nilai PDB barang sekaligus menunjukkkan perubahan jumlah kantitas  barabg dan jasa yang dihasilkan selama priode pengamatan.
Mengingat sulitnya pengumpulan data PDB, maka penghitungan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilakukan setiap saat; biasanya dilakukan dalam dimensi waktu triwulanan dan tahunan. Cara menghitung tingkat pertumbuhan sederhana sekali.
Jika selang waktu pertumbuhan hanya satu priode, maka:
                    (PDBRt – PDBRt-1)
Gt =                                           x100% ................................................................ (7.1)
                                PDBRt-1
            Dimana:
                          Gt           = pertumbuhan ekonomi periode t (triwulan atau tahunan)
                    PDBRt   = Produk Domestik Bruto Riil periode t (berdasarkan harga konstan)
                    PDBRt-1= PDBR satu periode sebelumnya
Jika interval waktunya lebih dari satu periode, perhitungan tingkat pertumbuhan ekonomi dapat menggunakan persamaan eksponensial:
                 PDBRt = PDBR()(1 + r )t................................................................................ (7.2)
                 Dimana:
                                    PDBRt = PDBR periode t
                                    PDBR()= PDBR periode awal
                                    r           = tingkat pertumbuhan
                                    t           = jarak periode
                        berikut ini adalah contoh perhitungan pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan data PDB Indonesia periode 1990-1995.
Tabel 7.1
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, periode 1990-1995.
Tahun
PDBR (konstan 1990)
(Rp milliar)
Tingkat pertumbuhan (%/tahun)
Tk.Pertumbuhan Rata-rata 1990-1995 (%/tahun)
1990
1991
1992
1993
1994
1995
195.597
209.192
222.705
237.172
255.055
276.003
7,2
7,0
6,5
6,5
7,5
8,2
7,1
7,1
7,1
7,1
7,1
7,1
Sumber: diolah dari International Financial Statistics (IMF), 1997:
Angka pertumbuhan tahunan diperoleh dengan menggunakan persamaan 7.1
Misalnya,
             (PDBR1995 – PDBR1994)
G1990     =                                      x      100%
                        PDBR1994

                (276.003 – 255.055)
                =                                  x          100%                          
                        255.055

            = 8,2


Angka pertumbuhan rata-rata periode 1990-1995 diperoleh dengan menggunakan persamaan 7.2.

            PDBR1995                     = PDBR1990 (1+r) 5
            Kita ubah persamaan ini dalam bentuk logaritma, sehingga:
            Log (PDBR1995)           = Log (PDBR1990) +5 Log (1+r)
            5 Log (1+r)                  = Log (PDBR1995) – Log (PDBR1990)
                                                            = Log (276.003) – Log (195.597)
                                                            = 5,4409 – 5,2914 = 0,1495
            Log (1+r)                     = 0,1495/5 = 0,0299
            Dengan mengganti logaritma angka 0,0299 diperoleh:
            1+r = 1,071
            r = 0,071 = 7,1% atau pertumbuhan ekonomi rata-rata pertahun periode 1990-1995 adalah 7,1%.[1]
Tabel 7.2
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Periode 1970-1994
Atas Harga Konstan 1990 (% per tahun)

1970-1980
1980-1990
1990-1994
1970-1994
1.      PDB
2.      Sektor Primer
3.      Sektor Sekunder
4.      Sektor Tensier
8
5
14,4
9,0
5,5
5,4
7,3
5,8
4,9
0,5
12,2
8,3
5,4
3,8
11,0
7,6
            Sumber: Diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS), berbagai tahun.
                                    Tabel 7.2 menunjukkan walaupun pertumbuha ekonomi jangka panjang Indonesia melebihi angka 6% per tahun, tingkat pertumbuhannya mengalami naik turun. Tingkat pertumbuhan terjadi selama periode 1970-1980, yaitu 8% per tahun. Sedangkan terendah terjadi selama periode 1990-1994 yang hanya 4,9% per tahun. Dari tabel juga terlihat bahwa sektor yang yang relatif sangat tinggi tingkat pertumbuhannya adalah sektor sekunder, selama periode 1970-1994 mencapai rata-rata 11% per tahun. Kebalikan dari sektor sekunder adalah sektor primer, pertumbuhan rata-ratanya selama periode 1970-1994 hanya 3,6% per tahun, atau hanya 1/3 kali tingkat pertumbuhan sektor sekunder. Bahkan pada periode 1990-1994 mengalami tingkat pertumbuhan negatif. Data-data pertumbuhan ini merupakan indikasi awal tentang adanya ketimpangan sektoral (sektor sekunder versus primer), yang dapat ditindaklanjuti dengan penelitian-penelitian yang lebih dalam dan spesifik.
                                    Demikian juga halnya jika ingin melihat apakah telah terjadi ketimpangan regional. Dengan memperhatikan pertumbuhan regional, akan segera terlihat daerah-daerah yang terlalu cepat atau terlalu lambat tingkat pertumbuhannya. Data-data ini dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki keseimbangan tingkat pertumbuhan antar daerah (regional).[2]

2.      Pentingnya Pertumbuhan Ekonomi
Dalam menerangkan mengenai penghitungan pendapatan nasional telah diterangkan bahwa penghitungan dilakukan berdasarkan kepada harga yang berlaku dan harga konstan. Peningkatan nilai pendapatan nasional menurut harga konstan dapat memberi gambaran menegenai pertumbuhan ekonomi yang dicapai.[3]
Sampai saat ini yang tetap menjadi perdebatan hangat di indonesia adalah mana yang lebih penting, pertumbuhan atau pemerataan? Terlepas mana yang lebih penting,yang pasti pertumbuhan ekonomi sangat penting dan sangat di butuhkan. Sebab, tanpa pertumbuhan tidak akan terjadi peningkatan kesejahteraan,kesempatan kerja, produktifitas dan distribusi pendapatan. Pertumbuhan ekonomi juga penting untuk mempersiapkan perekonomian menjadi tahapan kemajuan selanjutnya.

A.    Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan
Rakyat dikatakan makin sejahtera jika setidaknya output perkapita meningkat. Dalam liberatur ekonomi makro, tingkat kesejahteraan tersebut di ukur dengan PDB per kapita. Makin tinggi pdb perkapita, makin sjahtera masyarakat. Agar PDB per kapita terus meningkat, maka perekonomian harus terus bertumbuh dan harus lebih tinggi dari pada tingkat pertambahan penduduk suatu negara adalah 2% per tahun, maka pertumbuhan PDB harus lebih besar dari 2% per tahun.


B.     Pertumbuhan Ekonomi dan Kesemptan Kerja
Mengingat manusia adalah salah satu faktor terpenting dalam proses produksi, maka dapat dikatakan kesempatan kerja akan meningkat jika output meningkat. Hubungan antara kesempatan kerja dan output dapat dilihat berdasarkan rasio kesempatan kerja output dan angka elastisitas kesempatan kerja.
1)      Rasio kesempatan kerja output
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja telah di bahas oleh seorang ekonom bernama Arthur okun. Menurutnya, tingkat pengangguran yang minimal (4% per tahun) akan tercapai jika seluruh kapasitas produksi terpakai (kesempatan kerja penuh atau full employmen). Konsekuensipemikiran okun adalah pentingnya menjaga perekonomian agar berada dalam keadaan kesempatan kerja penuh.
2)      Angka elastilitas kesempatan kerja
Alat analisis lain yang digunakan untuk melihat hubungan antara kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi adalah angka elastisitas kesempatan kerja. Angka ini menunjukkan berapa persen kesempatan kerja akan bertambah, untuk setiap 1% pertumbuhan ekonomi.
Tingkat efisiensi juga mempunyai dampak terhadap kesempatan kerja, seperti pada penjelasan tentang rasio kesempatan kerja output.

C.    Pertumbuhan Ekonomi dan Perbaikan Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan yang baik adalah yang makin merata. Tetapi tanpa adanya pertumbuhan ekonomi, yang terjadi adalah pemerataan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi hanya akan menghasilkan perbaikan distribusi pendapatan bila memenuhi setidaknya dua syarat, yaitu memperluas lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas. Dengan memperluas lapangan kerja maka akses rakyat untuk memperoleh pendapatan makin besar.
Jika alat utama yang digunakan untuk perbaikan distribusi pendapatan adalah mekanisme pasar, maka supaya dapat bertahan di pasar, para pekerja harus terus meningkatkan produktivitas.dalam jangka panjang, kesempatan kerja yang tersedia memaksa orang untuk untuk menentukan spesialisasi, yang akan meningkatkan produktivitas. Dengan meningkatkan priduktivitas, uang yang dihasilkan untuk jam kerja yang sama akan lebih besar. Uang tersebut digunakan untuk memperbaiki kualitas SDM generasi berikutnya. Begitu seterusnya, sehingga dalam beberapa generasi kemudian, distribusi pendapatan semakin membaik.


D.     Persiapan Bagi Tahapan Kemajuan Selanjutnya
Suatu bangsa, terutama suatu perekonomian, dapat diumpamakan seperti manusia, yang tidak dapat menjadi besar dan dewasa dalam tempo semalam. Bahkan waktu yang dibutuhkan untuk mendewasakan perekonomian jauh lebih lama dibanding waktu yang dibutuhkan manusia untuk menjadi dewasa. Jika manusia matang dalam (jasmani dan rohani) umumnys tercapai pada usia sekitar 30-40 tahun, maka perekonomian baru dikatakan matang mungkin setelah berusia ratusan tahun bahkan hingga ribuan tahun. Kita tidak dapat menentukan batas kematangan suatu perekonomian. Hanya saja pengalaman bangsa maju menunjukkan mereka membutuhkan waktu sekitar tiga sampai lima abad untuk memodernisasikan perekonomiannya.[4]

3.      Faktor-faktor Penentu Pertumbuhan Ekonomi
Para ekonom klasik telah lama dan terus menerus mempelajari gejala pertumbuhan ekonomi. Karenanya, sangat baik untuk melihat pandangan mereka tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Berikut ini kita bahas secara ringkas faktor –faktor penentu pertumbuhan ekonomi tersebut.
a.      Barang Modal
Agar ekonomi bertumbuh, stok barang modal harus ditambah. Dalam bab 4 telah dipelajari bahwa penambahan stok barang modal dilakukan lewat investasi. Karena itu salah satu upanya pokok untuk meningkatkan investasi adalah menangani faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat investasi. Yang juga harus di ingat adalah pertumbuhan ekonomi baru baru dimungkinkan jika investasi neto lebih besar dari nol. Sebab, jika investasi neto sama dengan nol, perekonomian hanya dapat berproduksi pada tingkat sebelumnya. Akan lebih baik lagi, jika penambahan kuantitas barang modal juga disertai peningkatan kualitas.

b.      Tenaga Kerja
Sampai saat ini, khususnya di negara sedang berkembang, tenaga(NSB), tenaga kerja(TK) masih merupakan faktor produksi yang sangat dominan. Penambahan tenaga kerja umumnya sangat berpengaruh terhadap peningkatan output. Yang menjadi persoalan adalah sampai berapa banyak penambahan TK akan terus meningkatkan output. Hal itu sangat tergantung dari sebera cepatnya terjadinya the law of diminishing return (TLDR). Sedangkan cepat atau lambatnya TLDR sangat di tentukan oleh kualitas SDM dan keterkaitannya dengan kemajuan teknologi produksi. Selama ada sinerji antara TK dan teknologi, penambahan TK akan memacu pertumbuhan ekonomi.
Sanyangnya, jumlah TK yang di libatkan dalam proses produksi akan lebih sedikit jika teknologi yang digunakan makin tinggi.
c.       Teknologi
Hampir dapat di pastikan bahwa penggunaan teknologi yang makin tinggi sangat memacu pertumbuhan ekonomi, jika hanya dilihat dari peningkatan output. Namun, hal itu apakah baik? Harus dikaji ulang. Sebab, tujuan akhir pertumbuhan ekonomi adalah masyarakat yang adil dan sejahtera; bukan orang per orang. Telah dibahas dalam pembagian sebelumnya, ada imbang korban antara kemajuan teknologi dan kesempatan kerja. Lebih dari itu, kemajuan kemajuan teknologi telah makin memperbesar ketimpangan ekonomi antar bangsa, utamanya bangsa-bangsa maju serta dunia ketiga atau NSB.
d.      Uang
Dalam perekonomian modern, uang memegang peranan dan fungsi sentral. Uang bagi perekonomiaan ibarat darah dalam tubuh manusia. Tidak mengerankan makin banyak uang yang digunakan dalam proses produksi, makin besar output yang dihasilkan. Tetapi dengan jumlah uang yang sama, dapat dihasilkan output yang lebih besar jika penggunaannya lebih efisien.
Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki uang cukup? Jika usaha mereka diperkirakan memberi hasil yang baik ( memiliki prospek), banyak bank atau lembaga keuangan yang mau membantu, misalnya dengan memberikan kredit. Hanya saja minat meminjam, sangat tergantung dari besar kecilnya biaya yang harus di keluarkan, terutama bunga pinjaman. Sedangkan bunga pinjaman dapat ditekan jika sistem keuangan berjalan efisien.

e.       Manajemen
Manajemen adalah peralatan yang sangat di butuhkan untuk mengelola perekonomiaan modern, terutama bagi perekonomian yang sangat mengandalkan mekanisme pasar. Sistem manajemen yang baik, terkadang jauh lebih berguna dibanding barang modal yang banyak, uang yang berlimpah dan teknologi yang tinggi. Ada perekonomiaan yang tidak terlalu mengandalkan teknologi tinggi namun, berkat manajemen yang baik , mampumempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
f.       Kewirausahaan
Lebih luas dari cakupan manajemen adalah kewirausahaan. Untuk sementara, kiwirausahaan cukup didefinisikan sebagai kemampuan dan keberaniaan mengambil risiko guna mendapatkan keuntungan. Keberanian itu bukan asal-asalan. para  pengusaha mempunyai perkiraan yang matang bahwa input yang dikombinasikannya akan menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat, menjadi barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Kemampuan mengkombinasikan input ini dapat disebut sebagai kemampuan inovasi.
g.      Informasi
Syarat agar pasar berfungsi sebagai alat alat alokasi sumber daya ekonomi yang efisien adalah adanya informasi yang sempurna dan seimbang. Kegagalan pasar merupakan akibat tidak terpenuhinya alokasi ini. Tuntutan gerakan reformasi indonesia berupa transparansi dan kebebasan informasi, dilihat dari teori ekonomi, dapat dibenarkan. Sebab, makin banyak, makin benar dan makin seimbang arus informasi, para pelaku ekonomi dapat mengambil keputusan dengan cepat dan lebih baik, alokasi sumber daya ekonomi makin efisien. Dengan sumber daya yang sama, dihasilkan output yang lebih banyak. Informasi amat menunjang pertumbuhan ekonomi.[5]

4.      Teori-teori Pertumbuhan Ekonomi
Teori-teori pertumbuhan ekonomi melihat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi yang telah dibahas diatas. Perbedaan antara teori yang satu dengan teori yang lain terletak pada perbedaan fokus pembahasan dan atau asumsi-asumsi yang digunakan.
a.      Teori Jumlah Penduduk Optimal (Optimal Population Theory)
Teori ini telah sangat lama dikembangkan oleh kaum klasik. Menurut teori ini, berikutnya TLDR menyebabkan tidak semua penduduk dapat dilibatkan dalam proses produksi. Jika dipaksakan, justru akan menurunkan tingkat output perekonomian seperti digambarkan diagram berikut ini.
Teori Produksi
(output)
 

Q3

                                                                                         TP2

Q1
Q2
                                                                                                          TP1


 

0                                              L1           L2                           Tenaga Kerja
Dalam diagram 7.1 kurva TP1 menunjukkan hubungan antara jumlah  tenaga kerja dengan tingkat output (fungsi produksi). Kondisi optimal akan tercapai jika jumlah output penduduk (tenaga kerja) yang terlibat dalam proses produksi adalah L1, dengan jumlah output (PDB) adalah Q1. Jika jumlah tenaga kerja ditambah menjadi L2, PDB justru berkurang menjadi Q2. Hal ini karena cepat terjadinya TLDR. Bagaimana agar penambahan tenaga kerja ke L2 dapat meningkatkan output, misalnya, menjadi Q3? Yang harus dilakukan adaah investasi fisik (barang modal) dan SDM yang menunda terjadinya gejala TLDR. Bahkan kedua investasi tersebut menimbulkan sinerji. Jika hal tersebut yang terjadi, maka fungsi produksi membaik. Hal itu digambarkan dengan bergesernya kurva produksi ke TP2. Penambahan tenaga kerja akan meningkatkan output (PDB).[6]
b.      Teori Pertumbuhan Neo-Klasik
Teori pertumbuhan Neo-klasik pada dasrnya bertujuan untuk menerangkan faktor-faktor utama yang mnentukan pertumbuhan ekonomi dan sumbangan relatif dari berbagai faktor ini dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Dalam teori Neo-Klasik ditunjukkan bagaimana tiga jenis input- yaitu  modal,  teknologi dan tenaga kerja menentukan tingkat kegiatan ekonomi, dan peranan dari modal dan perkembangan teknologi dalam menentukan pertumbuhan ekonomi. Untuk menerangkan teori petumbuhan Neo-Klasik, uraian dalam bagian ini akan dibedakan kepada empat tingkat analisis, yaitu:
                                        I.            Menunjukkan pandangan teori pertumbuhan Neo-klasik dengan terlebih dahulu memisalkan tidak terdapat perkembangan teknologi, yaitu tingkat teknologi dianggap konstan.
                                     II.            Menunjukkan tabungan, investasi dan konsumsi pada setiap tingkat pertumbuhan ekonomi.
                                  III.            Melihat efek depresiasi dan pertambahan penduduk keatas pertumbuhan ekonomi.
                                  IV.            Menunjukkan bagaimana perkembanagn teknologi akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.[7]
c.       Teori Pertumbuhan Endojenus (Endogenus Growth Theory)
Teori yang dikembangkan oleh Romer (1986) ini merupakan pengembangan mutakhir teori pertumbuhan Klasik-Neo Klasik. Kelemahan model klasik maupun Neo Klasik terletak pada asumsi bahwa teknologi bersifat eksogenus. Kensekuensi ini adalah terjadinya The Law of Diminishing Return, karna teknologi  dianggap sebagai faktor produksi tetap (fixed input). Konsekuensi lebih serius dari memperlakukan teknologi sebagai faktor eksogen dan konstan adalah perekonomian yang lebih tebelakang selama tingkat pertambahan penduduk, tingkat tabungan, dan akses terhadap teknologi adalah sama.[8]
d.      Teori Schumpeter
Teori schumpeter menggaris bawahi pentingnya pembiayaaan inflasioner dan inovasi sebagai faktor utama dalam pembangunan ekonomi. Pembiayaan inflasioner merupakan satu metode tepat yang kini dicoba untuk diterapkan oleh setiap negara terbelakang[9]
e.       Teori Harrod-Domar
Teori Harrod-Domar dikembangkan secara terpisah (sendiri-sendiri) dalam priode yang bersamaan oleh E.S Domar (1947,1948) dan R.F. Harrod (1939,1948). Keduanya melihat pentingnya investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, sebab investasi akan meningkatkan stok barang modal, yang memungkinkan peningkatan output. Sumber dana domestik untuk keperluan investasi berasal dari bagian produksi (pendapatan nasional) yang ditabung.


[1] Prathama Raharja,Mandala Manurung,Teori Ekonomi Makro;suatu pengantar,edisi ketiga. Jakarta,2005, hlm 137-139.
[2]Ibid, hlm 140
[3] Sadono sukirno,Makroekonomi modern,PT Raja Grafindo Persada,Jakarta. Hlm 56.
[4] Ibid,hlm 140-143
[5] Ibid, hlm 144-147
[6] Prathama Raharja,Mandala Manurung,Teori Ekonomi Makro;suatu pengantar,edisi ketiga. Jakarta,2005, hlm 147-148
[7] Sadono sukirno, op-cit,. Hlm 452-453
[8] Prathama Raharja,Mandala Manurung, op-cit,. Hlm 150
[9] M.L.Jhingan,Ekonomi Pembangunan Dan Perencanaan.PT RajaGrafindo Persada,Jakarta. Hlm 132